Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

Lingkar Ganja Nusantara

[Saya ingin berbagi dengan rekan-rekan yang mungkin penasaran dengan gerakan legalisasi ganja di Indonesia - yang kerap disuarakan akhir-akhir ini, agar dapat pemahaman yang tidak setengah-setengah]. Inilah pelopornya, Lingkar Ganja Nusantara atau LGN:

I. Sejarah
Kami lahir dari Grup Dukung Legalisasi Ganja (DLG) di Facebook pada tahun 2008. Kami mengangkat isu pohon ganja dalam kaitannya dengan aspek sosial, budaya, hukum, medis, industri, agama dan lain-lainnya. Tahun 2011, anggota DLG mencapai 42.000 dan kemudian grup ini ditutup oleh pihak yang tidak kami ketahui.
Mei 2010, kami melakukan aksi damai dengan membagikan selebaran yang berisi informasi objektif terkait pohon ganja di sekitar Bundaran HI, Jakarta. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Global Marijuana March yang diperingati setiap hari sabtu pertama di bulan mei.
Momen ini kami manfaatkan untuk membentuk sebuah organisasi yang mewadahi isu tersebut; yang kemudian dikenal dengan nama Lingkar Ganja Nusantara (LGN).
II. Badan Hukum
Kami menyadari bahwa isu pohon ganja adalah isu yang selalu menuai kontroversi. Oleh karena itu, LGN memandang perlunya sebuah badan hukum yang diakui pemerintah untuk menjalankan kegiatan organisasinya. Untuk itu, kami membentuk Yayasan Penelitian Tanaman Ganja sebagai wadah LGN dalam memperjuangkan visi dan misinya.
III. Visi dan Misi
Visi:
Menjadikan pohon ganja sebagai salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya bagi kehidupan masyarakat Indonesia dan umat manusia pada umumnya.
Misi:
  • Melakukan penelitian terkait pohon ganja
  • Melakukan upaya pendidikan untuk menciptakan kesadaran kritis pada masyarakat
  • Melakukan advokasi serta memperjuangkan terpenuhinya hak asasi manusia yang berkeadilan terkait dengan pemanfaatan pohon ganja.
  • Membangun komunitas yang peduli dengan pemanfaatan pohon ganja.
IV. Struktur Organisasi
Pembina:
  • Ketua              : Ade Irawan Jusack
  • Anggota         : Inang Winarso
Pengawas:
  • Ketua              : Irwan Muhammad Syarif
  • Anggota         : Juspelmon
Pengurus:
  • Ketua              : Dhira Narayana
  • Sekretaris      : Cipta Budi
  • Bendahara     : Hairulloh
  • Anggota          : Herru Pribadi
    Irfan Hardiansyah
    Bukit Sorrento
    M. Agungan Alam Bastari
    M. Wahyudi
    Elizabeth Gitta

V. Rumah Hijau LGN
Pulau Situ Gintung
Jl. Kertamukti Pisangan Raya No. 121
Cirendeu, Ciputat, Tangerang 15419
Indonesia
Telepon     : 085782406420
Website           : www.legalisasiganja.com
Facebook       : Lingkar Ganja Nusantara
Twitter            : @legalisasiganja

Sumber: www.legalisasiganja.com

Selasa, 22 Maret 2011

Salut buat Jepang!

Salut buat Jepang. Kendati banyak penduduk tewas dan bangunan yang luluh lantak oleh musibah tsunami, disusul pula radiasi nuklir yang membuat kekhawatiran semakin berlipat: ada satu hal yang tak sanggup dimusnahkan oleh bencana - bencana yang mengerikan itu. Ya, Jepang itu sendiri! Lho?

Kebanggan dan keyakinan orang Jepang terhadap 'Jepang' tak akan pernah habis. Yang dimaksud 'Jepang yang tak pernah musnah' adalah moral, etika dan tanggungjawab yang sudah menjadi nilai dasar bangsa Jepang turun-temurun. Yang bukan hanya retorika dan penghias batang tubuh visi-misi sebuah bangsa.

Jepang adalah sebuah negara yang berhasil menanamkan jiwa ksatria hampir keseluruh warganya. Negara yang dapat memupuk rasa tanggungjawab, disiplin, kerja-keras serta etos kerja positif lainnya: dengan sabar dan subur. Contoh riilnya banyak sekali, diantaranya:

Harakiri - Peristiwa bunuh diri yang terhormat - Terlepas dari orang (non Jepang) menganggap itu adalah sebuah kebodohan, harakiri secara logika dapat dipahami sebagai langkah menebus kesalahan fatal yang telah dilakukan. Perbuatan atau langkah yang mengakibatkan lingkungan diluar diri kita (pribadi) menerima dampak dari kesalahan yang telah diperbuat. Baik itu kesalahan dalam skala keluarga hingga kepada lingkup negara. [sekarang prosesi harakiri mulai cenderung beralih: mengundurkan diri dari jabatan/kepercayaan yang diemban]

Begitu pula dengan budaya mempertahankan amanah. Dibandingkan dengan banyak negara yang juga mengalami bencana hebat - kasus penjarahan pasca tsunami di Jepang hampir tidak ada. Saya tidak berani menyatakan tidak ada sama sekali, tapi mungkin begitulah kenyataannya. Masyarakat yang selamat pasca tsunami, walau kekurangan dan kesulitan melanda, mereka masih sungkan terhadap diri sendiri untuk melakukan hal yang tak terpuji itu. Urusan perut bukan segalanya. Walau dalam kondisi terjepit sekalipun.

Menurut saya, hulu dari sikap hebat tersebut adalah integritas diri. Sikap yang boleh saya sebut sebagai karakter khas orang Jepang. Disiplin dan kerja keras juga adalah bumbu pelengkap dari etos hidup masyarakat Matahari itu. Tak dapat dipungkiri, sikap itu sudah dimiliki bangsa yang besar ini sejak zaman kekaisaran kuno-nya hingga hari ini.

Memang tak seratus persen orang Jepang memiliki sikap ksatria itu - tapi peristiwa pasca tsunami setidaknya telah menampilkan karakter asli mereka. Bukankah watak asli manusia akan muncul dalam keadaan sulit? Bagaimana dengan orang Indonesia?

Sabtu, 15 Januari 2011

Objektifitas Media Besar Indonesia

Beberapa bulan belakangan ini saya merasa terusik dengan pemberitaan media-media besar di Indonesia. Televisi nasional khususnya: pola dan arah pemberitaan yang ditampilkan tak pernah memberi ruang positif untuk bangsa kita yang besar ini, memiliki percaya diri lebih. Media selalu menstimulasi opini dalam kepala orang Indonesia, bahwa negara yang kemerdekaannya ditukar dengan jutaan nyawa ini: memang bangsa yang kacau dan tipis harapannya bergerak kearah yang lebih baik.

Televisi nasional selalu membombardir negara ini dengan siaran kekecewaan dan hopeless/ keputusasaan massal. Bak sinetron tragedi tak berujung, berita-berita yang diangkat selalu 'difokuskan' kepada kegagalan Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa. Dilukiskan Indonesia sebagai negara sumber ketidakadilan, sumber kemunafikan, bentukan dari punca sebuah rezim, bahkan personal yang tak memiliki pekerjaan tetap pun, dikarenakan ia memang pemalas dan tak memiliki keahlian: tetap saja negara disalahkan. Begitu juga dengan koruptor atau perampok. Dosa individu sudah menjadi dosa negara.

Dalam opini ini, saya pisahkan antara negara dengan pemerintahan SBY. Saya pastikan saya bukan pendukung kaum kiri maupun kanan. Saya melihat yang terjadi adalah: beberapa media besar, sangat-sangat kritis dengan pemerintahan SBY, dan tak ada masalah dengan itu, selama ada bukti/ fakta. Ironisnya, "SBY dilumpuhkan, Bangsa Indonesia dikorbankan".

Sudah terlalu lama pemberitaan dan penyampaian opini dibeberapa TV (skala) nasional Indonesia disusupi kepentingan-kepentingan aneh. Dapat dilihat dari pola pemberitaan. Baik itu pemilihan kata, pemilihan sudut pandang yang diarahkan oleh reporter saat 'hot topic' di 'talk show' maupun nara sumber 'pengimbang' sebuah 'talk show'. Apalagi diskusi tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak. Dipastikan muaranya - "Bangsa ini memang begitu". Bangsa dengan mental sakit...Kasihan Indonesia.

Saya masih merekam bagaimana seorang reporter wanita (TV di Indonesia) melakukan kebohongan publik yang menyesatkan. Ia merekayasa kasus dalam sebuah siaran. Tapi hingga hari ini, ia masih dipercaya memoderatori dan mengarahkan perbincangan-perbincangan opini di stasiun televisinya dan Polisi tak berani bertindak keras kala kasus itu mencuat. Karena Polisi memang alergi dan enggan memanjangkan masalah dengan media.

Saya juga memerhatikan gelagat para pemilik media besar. Jika ia politisi, ia akan selalu menyudutkan pemerintahan yang tengah berlangsung (yang tak kooperatif dengannya). Dengan pola pemilihan pemberitaan yang saya sampaikan diatas tadi. Tentunya ia tak turun langsung secara teknis, tapi seleranya sudah dapat ditangkap oleh awak medianya. Finalnya, politik pencitraan.
 Jika ia murni pengusaha, ia akan memanfaatkan kekuatan media untuk melindungi diri dari praktek bisnis 'abu-abunya' dan menghajar (lewat pemberitaan) pihak-pihak yang sekiranya dapat membahayakan bisnisnya. Baik itu sebuah institusi atau 'permainan' pengusaha saingannya.
Jika ia pejabat publik, medianya tak akan pernah mengkritisi kebijakan dan manuver pergerakan badan atau departemen yang dipimpinnya. Kecuali yang positif dan baik-baik saja.

Bukan berarti saya mengajak jangan percaya berita. Tapi sebaiknya kita berhati-hati dengan pemberitaan di negeri ini. Jangan sampai kepercayaan diri kita sebagai orang Indonesia: luntur, digerus pemberitaan-pemberitaan untuk kepentingan tertentu yang mengatasnamakan rakyat, masyarakat dan bangsa. Jangan sampai tertanam dalam diri kita bahwa bangsa kita adalah bangsa bobrok, dikarenakan ulah media yang tak bertanggungjawab secara moral.

Jangan sampai kita tak berfikir jernih dan idealis lagi: disebabkan pemberitaan-pemberitaan yang selalu mengerdilkan semangat juang kita untuk Indonesia yang lebih baik.

Selasa, 17 Agustus 2010

Patriotisme dalam Puasa

Ramadhan 1431 Hijrah atau Tahun 2010 ini memiliki warna lain. Jika biasanya hanya diisi kekhusyukan ummat muslim menjalankan ibadah puasa, tahun ini ada moment ekstra. Ya, apalagi kalau bukan bulan Agustus itu sendiri. Serta satu peristiwa tambahan.

Ramadhan yang bertepatan dengan bulan Agustus kali ini, memiliki nuansa yang sedikit aneh. Lazimnya, Ramadhan dijalani dengan ketenangan [karena orang - orang mengurangi gerak motorik tubuh dan menahan keinginan mekanik lahir - bathin], tapi tidak kali ini: Ada energi yang menyentak - nyentak disela diam dan tenang itu.

Pertama, sebelum masuk Ramadhan hingga awal Ramadhan lalu, peringatan acara - acara HUT Republik Indonesia yang genap berumur 65 tahun hari ini: [17 Agustus 2010] tetap saja berlangsung meriah, kendati dalam kondisi berlapar dan berdahaga ria. [salut buat anak bangsa ini.]

Kedua, Ramadhan agak memanas tahun ini. Amarah putera - puteri Indonesia secara kumulatif membentuk grafik tensi yang semakin meninggi hampir secara serempak dan bergelombang. Karena dipicu oleh perlakuan yang tidak mengenakkan kepada negara yang sudah berumur kepala enam ini. Apakah tidak cukup tua untuk dihargai dan dihormati?
Malaysia, negeri serumpun kita itu kembali berulah. Teritorial Republik yang kaya dengan laut dan pulau ini, seakan jadi halaman belakang mereka saja. Halaman bermain dan untuk buang sampah.

Tiga pejabat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) asal provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ditahan dan 'disandera' - dibawa ke Johor Bahru, Malaysia. Kapal Patroli DKP Kepri yang menangkap basah lima kapal nelayan Malaysia yang sedang mencuri ikan itu; dihadiahi tembakan peringatan oleh kapal Polis Diraja Malaysia agar melepaskan para nelayan berikut kapalnya. Aneh bin ajaib. Tembakan peringatan tersebut dilepaskan di wilayah perairan Indonesia, tepatnya di sekitar laut Pulau Bintan. Seperti mengusir pemilik rumah dari pintu belakang agar si empunya meninggalkan rumahnya lewat pintu depan.
Finalnya, skor berakhir 7 - 3. Tujuh untuk jumlah nelayan yang ditangkap. Tiga untuk abdi negara Indonesia yang dibawa ke Malaysia.


Media cetak, media elektronik, tokoh nasional, tokoh kampung, OKP, LSM, tua muda, miskin kaya, kompak bergerak membuat mexican wave. Meluapkan emosi dengan cara dan ritme yang berbeda. Tapi muaranya sama. Menuntut pemerintah lebih tegas terhadap Malaysia, negara serumpun yang kerap memandang rumpun sebelah ini dengan sebelah mata [atau tak dipandang sama sekali]


Ramadhan kali ini diliputi semangat patriotik yang galau. Ternyata lapar dan dahaga tidak memberi jalan dan ruang bagi rakyat Indonesia menjadi kerdil. Iman dan patriotisme adalah kombinasi yang mematikan. Semoga pemerintah juga tidak menjadi kerdil atas semua toleransi yang mengatasnamakan persahabatan antar-negara dan demokrasi dunia itu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Selamat HUT RI ke-65. Kami masih bangga menjadi wargamu. Masih menyenangkan jadi orang Indonesia, kendati keadaan semakin sulit.
Terimakasih Pahlawan. Patriotisme itu akan selalu ada didada, walau kerap tak terucap...




[Tulisan ini hadiah untuk peringatan HUT kemerdekaan bangsa yang besar ini. Hanya ini yang dapat saya berikan. Dirgahayu Indonesia ke-65. Merdeka!!!]

Senin, 16 Agustus 2010

Matahari Kemerdekaan

Mendekati peringatan HUT RI ke-65 yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2010, Kapal Polis Diraja Malaysia malah memasuki perairan Indonesia, di Bintan tepatnya: dan parahnya, memberi tembakan peringatan kepada kapal patroli Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Kepulauan Riau yang menahan lima kapal nelayan milik warga Malaysia yang mencuri ikan dilaut Indonesia. Semoga kejadian yang meremehkan kedaulatan Indonesia dan mengusik anak bangsa itu, tak kan berulang.
Jayalah Indonesiaku!
Jayalah Negeriku!