Pantun Tujuh ini saya buat untuk mencoba menggambarkan dinamika dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Kota tempat saya tinggal [sekarang].
Sakit mata karena debu
Lebih lagi terkena api
Penduduk kota bermacam suku
Suka santai di kedai kopi
Hati-hati kapal beradu
Tambat lah kapal jauh-jauh sekali
Kedai kopi sebagai pemersatu
Tempat lah proposal datang dan pergi
Fajar menjelang radio disetel
Biar banyak tahu berita
Orang Pinang hobby nyetel
Biar selalu tampil beda
Percuma ambil Kelapa
Kelapa diparang, air tak tumpah
Tak cuma tampil beda
Orang Pinang, rancak berkilah
Makan Bakso dengan tetangga
Tauke roboh, tak jadi lah gratis
Baliho terpasang dimana-mana
Semua tokoh, lah jadi narsis
Angin kencang, jangkar ditambat kokoh
Pulau terlihat jauh diujung mata
Semua orang, nak jadi tokoh
Penjahat pun dah tak ada kerja
Musim Mangga, buah duku tetap mahal
Berkarung-karung disukat-sukat
Musim Pilkada, semua suku dijual
masing-masing nak tunjuk hebat
Demikian tujuh pantun yang saya buat, pantun versi saya tentunya. Mengenai kaidah pantun yang benar, saya bukan ahlinya. Hanya penikmat. Tq udah join baca...
Tampilkan postingan dengan label Tanjungpinang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanjungpinang. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 September 2010
Jumat, 20 Agustus 2010
Enaknya Tinggal di Wilayah Perbatasan (dua)
Saya lanjutkan celoteh mengapa tinggal didaerah perbatasan itu enak...
Kemarin saya sudah menuliskan dua poin keunggulan orang perbatasan. Pertama, mudah cuci mata atau belanja ke luar negeri dan satunya lagi, memiliki efek keuntungan ekonomi yang tinggi bagi warga tempatan.
Di Tanjungpinang, produk-produk rumahan tak bisa kita pandang sebelah mata, karena dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Itu dikarenakan mereka melakukan niaga atau transaksi dengan warga Malaysia dan Singapura. Mereka jadi pemasok kecil - kecilan ke negara tersebut. Secara berkala.
Misalnya: kue - kue kering buatan rumah, keripik tempe, bawang goreng atau hasil olahan laut yang dikeringkan. Untung yang didapat lumayan besar karena biaya produksinya ditanggung oleh Rupiah, tapi dibeli dengan Ringgit Malaysia. Apalagi Dollar Singapura. Woww
Selain keuntungan Ringgit atau Dollar tadi, orang perbatasan juga memiliki pengetahuan kuliner yang bagus. Contohnya Tanjungpinang, karena persinggungan dengan kedua negara yang cukup intens, pengetahuan tentang menu bisa lebih banyak dan petualangan kuliner sangat mengasyikkan. Terlepas ragam makanan atau masakan itu familiar atau tidak, setidaknya makanan - makanan negara tetangga tersebut dengan mudah ditemui dan dicicipi. Beda halnya dengan warga yang tinggal jauh dari perbatasan negara, mungkin agak sulit atau bahkan tak bisa samasekali menemukan menu tersebut di Indonesia.
Masakan Melayu, India, Thailand, Cina, citarasa Campa atau Bangla sangat popular dikedua negara itu. Bisa disantap kapan saja jika melancong kesana. Begitu juga sebaliknya, jika mereka mampir di Tanjungpinang, rasa penasaran mereka dengan kuliner Indonesia sangat tinggi. Ujungnya, masakan Tanjungpinang disebut 'makanan Indonesia'. Padahal mereka belum lagi menemui makanan aneh nan sedap dari belahan nusantara lainnya. Dapat ditebak, finalnya mereka merogoh kocek untuk meningkatkan ekonomi warga tempatan.
Lagi, keuntungan tinggal di Tanjungpinang.ehm..ehm. Kita bisa bekerja paruh waktu / mingguan di Malaysia atau Singapura dengan modal kecil. Di Restoran, rumah makan, dagang dan pekerjaan sejenis itu. Tak perlu ikut pelatihan, terdaftar di yayasan atau lembaga penyalur tenaga kerja. Tak perlu setoran atau menunggu jadwal keberangkatan khusus. Dengan modal passport saja, semua beres. Cari atau hunting boss sendiri. Bisa pulang sebulan sekali. Bahkan lebih.
Dulu dan beberapa tahun lepas, banyak orang Tanjungpinang dan sekitarnya bekerja dengan pola tersebut. Untungnya sangat menggiurkan. Karena pengaruh selisih nilai mata uang.Sekarang masih ada yang bekerja seperti itu, tapi banyak berkurang. Akibat pengawasan imigrasi Malaysia dan Singapura terus diperketat. Adalah suatu pelanggaran jika bekerja di sana tapi menggunakan passport biasa, walaupun kerja dibidang informal. Pihak imigrasinya akan curiga jika melihat orang Indonesia kerap bolak balik dalam waktu yang singkat - singkat. Tapi masih ada yang melakoninya hingga sekarang dan sudah sangat memahami seluk beluk orang dalam di Pelabuhan Malaysia dan Singapura.
Terimakasih sudah terlibat membaca, sekali lagi saya sampaikan: "Enak lho tinggal diperbatasan."
Kemarin saya sudah menuliskan dua poin keunggulan orang perbatasan. Pertama, mudah cuci mata atau belanja ke luar negeri dan satunya lagi, memiliki efek keuntungan ekonomi yang tinggi bagi warga tempatan.
Di Tanjungpinang, produk-produk rumahan tak bisa kita pandang sebelah mata, karena dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Itu dikarenakan mereka melakukan niaga atau transaksi dengan warga Malaysia dan Singapura. Mereka jadi pemasok kecil - kecilan ke negara tersebut. Secara berkala.
Misalnya: kue - kue kering buatan rumah, keripik tempe, bawang goreng atau hasil olahan laut yang dikeringkan. Untung yang didapat lumayan besar karena biaya produksinya ditanggung oleh Rupiah, tapi dibeli dengan Ringgit Malaysia. Apalagi Dollar Singapura. Woww
Selain keuntungan Ringgit atau Dollar tadi, orang perbatasan juga memiliki pengetahuan kuliner yang bagus. Contohnya Tanjungpinang, karena persinggungan dengan kedua negara yang cukup intens, pengetahuan tentang menu bisa lebih banyak dan petualangan kuliner sangat mengasyikkan. Terlepas ragam makanan atau masakan itu familiar atau tidak, setidaknya makanan - makanan negara tetangga tersebut dengan mudah ditemui dan dicicipi. Beda halnya dengan warga yang tinggal jauh dari perbatasan negara, mungkin agak sulit atau bahkan tak bisa samasekali menemukan menu tersebut di Indonesia.
Masakan Melayu, India, Thailand, Cina, citarasa Campa atau Bangla sangat popular dikedua negara itu. Bisa disantap kapan saja jika melancong kesana. Begitu juga sebaliknya, jika mereka mampir di Tanjungpinang, rasa penasaran mereka dengan kuliner Indonesia sangat tinggi. Ujungnya, masakan Tanjungpinang disebut 'makanan Indonesia'. Padahal mereka belum lagi menemui makanan aneh nan sedap dari belahan nusantara lainnya. Dapat ditebak, finalnya mereka merogoh kocek untuk meningkatkan ekonomi warga tempatan.
Lagi, keuntungan tinggal di Tanjungpinang.ehm..ehm. Kita bisa bekerja paruh waktu / mingguan di Malaysia atau Singapura dengan modal kecil. Di Restoran, rumah makan, dagang dan pekerjaan sejenis itu. Tak perlu ikut pelatihan, terdaftar di yayasan atau lembaga penyalur tenaga kerja. Tak perlu setoran atau menunggu jadwal keberangkatan khusus. Dengan modal passport saja, semua beres. Cari atau hunting boss sendiri. Bisa pulang sebulan sekali. Bahkan lebih.
Dulu dan beberapa tahun lepas, banyak orang Tanjungpinang dan sekitarnya bekerja dengan pola tersebut. Untungnya sangat menggiurkan. Karena pengaruh selisih nilai mata uang.Sekarang masih ada yang bekerja seperti itu, tapi banyak berkurang. Akibat pengawasan imigrasi Malaysia dan Singapura terus diperketat. Adalah suatu pelanggaran jika bekerja di sana tapi menggunakan passport biasa, walaupun kerja dibidang informal. Pihak imigrasinya akan curiga jika melihat orang Indonesia kerap bolak balik dalam waktu yang singkat - singkat. Tapi masih ada yang melakoninya hingga sekarang dan sudah sangat memahami seluk beluk orang dalam di Pelabuhan Malaysia dan Singapura.
Terimakasih sudah terlibat membaca, sekali lagi saya sampaikan: "Enak lho tinggal diperbatasan."
Selasa, 17 Agustus 2010
Enaknya Tinggal di Wilayah Perbatasan
Saya tinggal di daerah perbatasan. Tidak terlalu jauh dari Singapura dan Malaysia. Tanjungpinang nama kotanya. Masuk dalam wilayah Pulau Bintan. Kenapa saya bilang enak tinggal di daerah perbatasan? nanti akan saya jelaskan.
Kota Tanjungpinang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Nah, Tanjungpinang ini ibukota provinsinya. Walau Batam lebih maju, modern dan berkembang pesat, Tanjungpinang tetap dituakan dan dihargai sebagai 'kota lama' yang dianggap tepat untuk dijadikan kota induk untuk ibukota provinsi.
Jika hendak ke Singapura atau Malaysia, Tanjungpinang merupakan kota alternatif di Indonesia yang bisa dijadikan acuan. Tak makan waktu lama, kita akan menjejakkan kaki ke negeri tetangga itu. Ke Singapura cukup duduk kurang dari dua jam saja. Begitu juga ke Malaysia; turun di Johor tentunya.
Angkutan favorit dan yang paling utama untuk menuju ke dua negara itu adalah speed. Speed adalah sebutan orang Kepri untuk kapal cepat berbahan fiber, yang kira - kira bisa memuat penumpang dari kapasitas 50 sampai 200-an orang lebih.
Cukup introduksinya ya, sekarang saya jelaskan alasan mengapa tinggal diperbatasan itu menyenangkan...
Sebelum bercerita lebih jauh, saya bilang enak; karena saya tinggal didekat Singapura dan Malaysia. Bukan dengan negara konflik atau negara miskin yang doyan kudeta. Coba di kawasan Gazza atau negara di Afrika yang sering perang etnis tak berkesudahan. Tidak akan senyaman Tanjungpinang...ehm...ehm.
Liburan keluar negeri bukan cuma khayalan kalau kita tinggal di Tanjungpinang. Jalan - jalan ke Singapura dan Malaysia sudah seperti beli gorengan di perempatan terdekat [lebay ya.wkwkwkwkw]
Dengan modal Rp 500.000 kita sudah dapat ongkos PP untuk melancong ke negara - negara itu. Masih dapat kembalian lagi, walau cuma sedikit. Apalagi kalau berangkatnya dari Batam [buat yang turun di Bandara Hang Nadim Batam].
Tujuan main ke Singapura atau Malaysia tak cuma untuk cuci mata: shopping, nyari barang bagus untuk dijual lagi, cek kesehatan, bertemu teman atau kerabat juga merupakan agenda yang sudah biasa dijalani warga Tanjungpinang bila melancong kesana.
Itu dari sisi kepuasan batinnya. Ada lagi keuntungan ekonomisnya. Banyak malah. Yang saya sebutkan ini hanya transaksi ekonomi kelas bawah saja... Nah, pedagang - pedagang di Tanjungpinang, terutama yang didekat pasar akan lebih banyak order atau keuntungan jika bekerja lebih pada hari Sabtu, Minggu atau hari - hari libur nasional di Singapura dan Malaysia. Mereka akan menyerbu Tanjungpinang, seperti pasukan khusus yang menyerbu targetnya. Baik itu bergerombol lewat paker tour, atau sekumpulan keluarga/ teman saja. Dipastikan harga agak berbeda sedikit.Agak naik lah. Maklum nilai mata uang mereka sepertinya lebih tinggi daripada rupiah yang bagi kita sudah sangat menggiurkan itu.
Begitu juga dengan taxi, motel/ hotel dan rumah makan langganan mereka. Dapat lah tambah - tambah.
Itu baru dua dari banyak keuntungan tinggal diwilayah perbatasan. Mata saya sudah pegal baca tulisan yang mulai menumpuk ini, lain waktu saya akan berceloteh lagi apa enaknya tinggal di wilayah perbatasan. Cao...
Kota Tanjungpinang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Nah, Tanjungpinang ini ibukota provinsinya. Walau Batam lebih maju, modern dan berkembang pesat, Tanjungpinang tetap dituakan dan dihargai sebagai 'kota lama' yang dianggap tepat untuk dijadikan kota induk untuk ibukota provinsi.
Jika hendak ke Singapura atau Malaysia, Tanjungpinang merupakan kota alternatif di Indonesia yang bisa dijadikan acuan. Tak makan waktu lama, kita akan menjejakkan kaki ke negeri tetangga itu. Ke Singapura cukup duduk kurang dari dua jam saja. Begitu juga ke Malaysia; turun di Johor tentunya.
Angkutan favorit dan yang paling utama untuk menuju ke dua negara itu adalah speed. Speed adalah sebutan orang Kepri untuk kapal cepat berbahan fiber, yang kira - kira bisa memuat penumpang dari kapasitas 50 sampai 200-an orang lebih.
Cukup introduksinya ya, sekarang saya jelaskan alasan mengapa tinggal diperbatasan itu menyenangkan...
Sebelum bercerita lebih jauh, saya bilang enak; karena saya tinggal didekat Singapura dan Malaysia. Bukan dengan negara konflik atau negara miskin yang doyan kudeta. Coba di kawasan Gazza atau negara di Afrika yang sering perang etnis tak berkesudahan. Tidak akan senyaman Tanjungpinang...ehm...ehm.
Liburan keluar negeri bukan cuma khayalan kalau kita tinggal di Tanjungpinang. Jalan - jalan ke Singapura dan Malaysia sudah seperti beli gorengan di perempatan terdekat [lebay ya.wkwkwkwkw]
Dengan modal Rp 500.000 kita sudah dapat ongkos PP untuk melancong ke negara - negara itu. Masih dapat kembalian lagi, walau cuma sedikit. Apalagi kalau berangkatnya dari Batam [buat yang turun di Bandara Hang Nadim Batam].
Tujuan main ke Singapura atau Malaysia tak cuma untuk cuci mata: shopping, nyari barang bagus untuk dijual lagi, cek kesehatan, bertemu teman atau kerabat juga merupakan agenda yang sudah biasa dijalani warga Tanjungpinang bila melancong kesana.
Itu dari sisi kepuasan batinnya. Ada lagi keuntungan ekonomisnya. Banyak malah. Yang saya sebutkan ini hanya transaksi ekonomi kelas bawah saja... Nah, pedagang - pedagang di Tanjungpinang, terutama yang didekat pasar akan lebih banyak order atau keuntungan jika bekerja lebih pada hari Sabtu, Minggu atau hari - hari libur nasional di Singapura dan Malaysia. Mereka akan menyerbu Tanjungpinang, seperti pasukan khusus yang menyerbu targetnya. Baik itu bergerombol lewat paker tour, atau sekumpulan keluarga/ teman saja. Dipastikan harga agak berbeda sedikit.Agak naik lah. Maklum nilai mata uang mereka sepertinya lebih tinggi daripada rupiah yang bagi kita sudah sangat menggiurkan itu.
Begitu juga dengan taxi, motel/ hotel dan rumah makan langganan mereka. Dapat lah tambah - tambah.
Itu baru dua dari banyak keuntungan tinggal diwilayah perbatasan. Mata saya sudah pegal baca tulisan yang mulai menumpuk ini, lain waktu saya akan berceloteh lagi apa enaknya tinggal di wilayah perbatasan. Cao...
Langganan:
Postingan (Atom)

