Daging yang saya maksud adalah daging-nya Sutardji Calzoum Bachri. Daging yang 'dibentuk' oleh Calzoum pada tahun 1979 - (isi dari salah satu sajaknya) dalam kumpulan sajak-sajak yang terangkum dalam KAPAK.
Daging
daging
coba bilang
bagaimana arwah masuk badan
bagaimana tuhan
dalam denyutmu
jangan diam
nanti aku marah
kalau kulahap kau
aku enak sekejap
aku sedih
kau jadi taik
daging
kau kawan di bumi di tanah di resah di babi-babi
daging
ging ging
kugali-gali kau
buat kubur
dari hari
ke hari
1979
Senin, 28 Februari 2011
Minggu, 20 Februari 2011
Pantun Nasehat
Kesempatan kali ini saya berbagi pantun-pantun (dari buku Pantun Nasehat) karya Tenas Effendy, sastrawan sepuh dari tanah Riau. Karya pantunnya yang sudah terangkum dalam puluhan buku; mengalir sedap dalam penggalan-penggalan kalimat yang sangat harmonis dan dinamis...
Kelapa Gading buahnya banyak
Lebat berjurai dipangkal pelepah
Bila berunding sesama bijak
Kusut selesai, sengketapun sudah
Kalau ke Teluk pergi memukat
Tali temali kita kokohkan
Kalau duduk mencari mufakat
Iri dan dengki kita jauhkan
Apa tanda batang kemiri
Buahnya keras dibuat rempah
Apa tanda orang tak tahu diri
Beroleh kurnia hatinya pongah
Apalah tanda kayu Meranti
Kayunya rampak melambai angin
Apalah tanda Melayu sejati
Ilmunya banyak, belajarpun rajin
Kalau kail panjang sejengkal
Lautan mana dapat diduga
Kalau kecil kurang berakal
Sesudah tua dapat celaka
Kalau hendak mencari jelaga
Jelaga terletak pada sumbu
Kalau hendak mencari surga
Surga itu dibawah telapak kaki Ibu
Kalau Cempaka kurang berbunga
Tanda uratnya sudah membusuk
Kalau lah durhaka keorangtua
Dunia akhirat kan kena kutuk
Tak ada guna merajut baju
Kalau ditetas buahnya lepas
Tak ada guna disebut Melayu
Kalau malas bekerja keras
Apa tanda Pinang berbuah
Banyak burung menyeri mayangnya
Apalah tanda orang bertuah
Bijak menghitung hari didepannya
Berbuah kayu ditengah padang
Daunnya rimbun tempat berteduh
Bertuah Melayu berkasih-sayang
Hidup rukun, sengketa menjauh
Apalah tanda batang Pandan
Daunnya panjang duri berduri
Apalah tanda orang budiman
Dadanya lapang, tahukan diri
Apalah tanda batang Nipah
Tumbuh di pantai, banyak pelepah
Apalah tanda orang bertuah
Elok perangai, hati pun rendah
Apalah tanda kerang berisi
Bila direbus kulitnya merekah
Apalah tanda orang berbudi
Bila bergaul suka merendah
Orang Bintan memetik nangka
Rasanya manis sedap dimakan
Orang beriman berbaik sangka
Mukanya manis, lakunya sopan
Pulau Bintan di Selat Melaka
Dekatlah dengan Pulau Penyengat
Kalau iman melekat didada
Berat dan ringan tidak mengumpat
Pulau Bintan di Selat Melaka
Tempat berkampung anak Melayu
Kalau iman melekat didada
Tak kan canggung kehilir- kehulu
Pulau Bintan di Selat Melaka
Tempat berhimpun perahu nelayan
Kalau iman melekat didada
Sifat penyantun, laku pun sopan
Pulau Bintan di Selat Melaka
Termasyhur dengan Kota Piring-nya
Kalau iman melekat didada
Jujur berkawan, sempurna rundingnya
Jauh berjalan banyak dilihat
Banyak mendengar bertambah ilmu
Senonoh berkawan banyak manfaat
Banyak bersabar, hilangkan seteru
Kelapa Gading buahnya banyak
Lebat berjurai dipangkal pelepah
Bila berunding sesama bijak
Kusut selesai, sengketapun sudah
Kalau ke Teluk pergi memukat
Tali temali kita kokohkan
Kalau duduk mencari mufakat
Iri dan dengki kita jauhkan
Apa tanda batang kemiri
Buahnya keras dibuat rempah
Apa tanda orang tak tahu diri
Beroleh kurnia hatinya pongah
Apalah tanda kayu Meranti
Kayunya rampak melambai angin
Apalah tanda Melayu sejati
Ilmunya banyak, belajarpun rajin
Kalau kail panjang sejengkal
Lautan mana dapat diduga
Kalau kecil kurang berakal
Sesudah tua dapat celaka
Kalau hendak mencari jelaga
Jelaga terletak pada sumbu
Kalau hendak mencari surga
Surga itu dibawah telapak kaki Ibu
Kalau Cempaka kurang berbunga
Tanda uratnya sudah membusuk
Kalau lah durhaka keorangtua
Dunia akhirat kan kena kutuk
Tak ada guna merajut baju
Kalau ditetas buahnya lepas
Tak ada guna disebut Melayu
Kalau malas bekerja keras
Apa tanda Pinang berbuah
Banyak burung menyeri mayangnya
Apalah tanda orang bertuah
Bijak menghitung hari didepannya
Berbuah kayu ditengah padang
Daunnya rimbun tempat berteduh
Bertuah Melayu berkasih-sayang
Hidup rukun, sengketa menjauh
Apalah tanda batang Pandan
Daunnya panjang duri berduri
Apalah tanda orang budiman
Dadanya lapang, tahukan diri
Apalah tanda batang Nipah
Tumbuh di pantai, banyak pelepah
Apalah tanda orang bertuah
Elok perangai, hati pun rendah
Apalah tanda kerang berisi
Bila direbus kulitnya merekah
Apalah tanda orang berbudi
Bila bergaul suka merendah
Orang Bintan memetik nangka
Rasanya manis sedap dimakan
Orang beriman berbaik sangka
Mukanya manis, lakunya sopan
Pulau Bintan di Selat Melaka
Dekatlah dengan Pulau Penyengat
Kalau iman melekat didada
Berat dan ringan tidak mengumpat
Pulau Bintan di Selat Melaka
Tempat berkampung anak Melayu
Kalau iman melekat didada
Tak kan canggung kehilir- kehulu
Pulau Bintan di Selat Melaka
Tempat berhimpun perahu nelayan
Kalau iman melekat didada
Sifat penyantun, laku pun sopan
Pulau Bintan di Selat Melaka
Termasyhur dengan Kota Piring-nya
Kalau iman melekat didada
Jujur berkawan, sempurna rundingnya
Jauh berjalan banyak dilihat
Banyak mendengar bertambah ilmu
Senonoh berkawan banyak manfaat
Banyak bersabar, hilangkan seteru
Sastra Koran dan Imaji Tentang Kekerasan
Tradisi penulisan teks sastra lewat koran (sastra koran) sudah lama muncul. (Hampir) semua sastrawan kondang memanfaatkannya. Gerson Poyk, Abdul Hadi WM, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, Hamsad Rangkuti, atau Afrizal Malna –sekadar menyebut beberapa nama—adalah sederet tokoh yang dengan amat sadar ”menggauli” koran sebagai ”corong” kreativitasnya dalam berkesenian. Hampir mustahil seorang sastrawan bisa terangkat namanya secara otomatis tanpa harus bersentuhan dengan koran. Bahkan, bagi penerbit, sastra koran barangkali dijadikan sebagai ”barometer” untuk mengukur tingkat kapabilitas seorang sastrawan yang menginginkan karyanya diterbirkan sebagai buku. Itu artinya, koran, disadari atau tidak, memiliki andil besar dalam melambungkan nama seorang sastrawan.
Sayangnya, tidak semua penerbitan (koran) sanggup dan mampu bertindak sebagai ”juru bicara” sang sastrawan, apalagi ketika harga kertas melambung. Tidak sedikit koran yang terpaksa menggusur rubrik sastra. Koran pun jadi lebih banyak menyajikan berita-berita politik dan ekonomi yang ”memanas”, demo menolak kenaikan BBM, aksi-aksi kekerasan yang mengerikan, pernyataan para elite yang kontroversial, atau penanganan kasus hukum yang stagnan. Hanya penerbitan tertentu yang dengan setia menghadirkan tulisan yang humanis, menyentuh nurani, dan menyejukkan. Selebihnya, adalah penerbitan yang sering disebut orang sebagai ”pers provokator”. Tidak bikin sejuk, tetapi secara emosional malah bikin suasana makin panas dan mudah terkompori.
Sebagai salah satu entitas kebudayaan, sastra akan makin bermakna jika didukung media publikasi dan sosialisasi yang memadai. Salah satunya ya lewat koran itu tadi. ”Pulchrum dicitur id apprensio” (keindahan jika ditangkap menyenangkan), demikian ujar sang filsuf skolastik, Thomas Aquinas. Ini artinya, keindahan akan menjadi sebuah kemustahilan tanpa media sosialisasi dan publikasi. Bagaimana mungkin publik mampu menangkap keindahan cerpen surealis Danarto yang fantastik dan teatrikal, cerpen Seno Gumira Ajidarma yang ”liar”, romantik, dan menghanyutkan, atau puisi-puisi Abdul Hadi WM yang religius, kalau tak ada media yang memuatnya? Bagaimana mungkin nama-nama mereka bisa dikenal publik sastra?
Dari sisi ini jelas bahwa keberadaan koran menjadi hal yang niscaya bagi kiprah dan kreativitas seorang sastrawan, khususnya bagi mereka yang sedang memburu popularitas. Untuk langsung mengirimkan setumpuk karyanya kepada penerbit buku? Alih-alih diterima, disentuh pun bisa jadi tidak, apalagi buku-buku sastra termasuk jenis buku yang ”mati” di pasaran.
Ada juga asumsi yang menyatakan bahwa sastra koran diragukan bobot dan kualitasnya. Asumsi ini beranjak dari kenyataan bahwa kreativitas sastrawan mesti ”tunduk” dan ”patuh” pada selera redaksi sehingga menutup kebebasan sastrawan dalam menciptakan teks-teks sastra yang ”liar” dan menentang arus. Selain itu, redaksi koran juga dinilai ”kurang adil” dalam memperlakukan para penyumbang tulisan. Mereka yang sedang berjuang mengukir sejarah kesastrawanannya untuk mendapatkan legitimasi publik harus menelan kekecewaan lantaran tulisan-tulisan kreatifnya tak muncul-muncul di koran. Ironisnya, tulisan sastrawan kondang yang secara tematik dan penggarapannya dianggap kurang intens dan serius, justru bertebaran di berbagai koran.
Asumsi semacam itu memang sah-sah saja. Namun, sepanjang pengamatan awam saya, teks-teks sastra koran yang muncul –tak peduli siapa penulisnya—secara sastrawi dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, dari sisi bobot dan kualitasnya layak digolongkan sebagai karya sastra yang sarat nilai kultural, relogi, dan kemanusiaan. Selain itu, pimpinan redaksi tentu tak akan gegabah menaruh sembarang orang untuk menjaga ”gawang” rubrik sastra. Paling tidak, mereka yang pernah eksis berkiprah di dunia sastra dan berwawasan estetika yang mumpuni --tidak semata-mata memiliki keterampilan jurnalistik-- yang layak mengurusnya.
Di tengah atmosfer kehidupan bangsa yang makin rentan terhadap imaji kekerasan, disintegrasi sosial, atau ulah anomali sosial lainnya, sudah tiba saatnya koran menjadi media alternatif, semacam katharsis dan pencerahan batin, untuk ikut peduli meredam emosi pembaca lewat teks-teks sastra, baik kreatif maupun literer, yang mampu membikin hati sejuk, penuh sentuhan nilai kemanusiaan dan religi. Melalui teks sastra inilah denyut kehidupan manusia yang sebenarnya dapat dirasakan dan diraba. Dengan banyak membaca teks sastra, pembaca makin arif dan jernih dalam menyiasati berbagai fenomena hidup dan kehidupan.
Akankah ”sinergi” antara sastra dan koran makin menguat atau justru amburadul direnggut ”mulut-mulut” industrialisasi dan kapitalisasi global yang sulit terelakkan? Nah, sang waktulah yang akan menjadi saksi. ***
Sumber: Sawali Tuhusetya - http://www.cintabahasa.co.cc/
Senin, 07 Februari 2011
Doa yang Harus Kujawab
Telah terkirim doa dari seorang pria tengah malam tadi. Lelaki kurus dan legam yang sangat ingin bisa nyetir mobil. Ia duduk diatas sajadah usang berbulu, yang renta. Kain hijau yang digunakannya pun tak bersih: tak seperti layaknya pendoa-pendoa yang biasa bermunajat kepada Ku dimalam hari yang sunyi.
Pria yang ingin sekali bisa nyetir ini, melelehkan butiran-butiran air jernih dari sudut bolamatanya yang berwarna putih kekuning-kuningan. Dalam sedu sedan ia luapkan semua himpitan bathinnya.
"Tuhan, apakah salah jika aku bisa nyetir? Terlalu berliku jalan yang Kau berikan pada hambaMu ini. Bukankah Kau pernah bersabda jika Engkau hanya akan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan seseorang? Apakah janjiMu sudah tak bisa kupercaya lagi? Apakah ini harus jadi doa pertama dan terakhirku? Lalu siapa yang akan kupercaya lagi?"
Suara parau yang tak terdengar oleh orang lain itu kian melemah. Diteruskan oleh nada gumam ratap yang aneh. Suara yang tak lazim: seperti hamba-hambaKu yang lain mengirimkan doa.
"AAAAARRRRFF. Tuhaaan..RRR..GRR..Tuhannn," kakinya yang dalam posisi bersila digoyang-goyangkannya keatas dan kebawah. Semakin keras. Lalu berhenti. "Tuhaaannn, apa jalan menuju ridhaMu dengan membiarkan anakku kelaparan? Apakah jalan yang Kau kehendaki dengan menjadikan isteriku buruh cuci dirumah orang-orang? Dan selamanya harus beginii..."
Hening. Dalam hening yang cukup lama itu, hatinya berkata : "Jika Kau tak mempermudah jalanKu, siapa lagi? Jika Kau telah menakdirkan aku menyerahkan diri esok pagi, apakah kebutuhan keluargaku akan Kau cukupi?"
========================================================================
Lelaki jagal ini memang baru malam ini mengirimkan doanya. Ia telah membunuh seorang jutawan karena butuh biaya untuk belajar nyetir dan membuat Surat Izin Mengemudi (SIM). Sebelum tengah malam tadi, ia tak pernah mengirim doa kepadaKu. Tak pernah meminta. Untuk memaki nasib dan ketidakadilan saja ia pergunakan hati dan mulutnya.
Doa tak dikenal itu datang dengan tiba-tiba. Aku sudah mengetahuinya sebelum ia memilih kata-kata harap itu. Dan Aku sudah paham reaksinya akan begitu. Ia menyesal mengikuti kata hatinya untuk membawa perubahan yang lebih baik buat keluarga tercinta.
=========================================================================
Beberapa malam yang lalu, seorang jutawan yang kerap mengirimkan doanya, meminta lagi kepadaKu. "Tuhan, berilah hamba rezeki berlimpah. Darimana pun asalnya. Jika ia didalam bumi, keluarkanlah. Jika masih menggantung dilangit, turunkanlah. Apabila rezeki itu haram, halalkan lah. Buka lah pintu rezeki dari empat penjuru mata angin dan selalu lah beri aku rezeki dari arah yang tak terduga."
Jutawan ini memang rajin mengirimkan doanya, sejak anaknya meninggal kala ikut sang isteri dulu. Saat perceraiannya dengan isteri tercinta, karena orang ketiga: tujuh tahun yang lalu.
Ia rajin berdoa, awalnya karena merasa bersalah kepada buah hatinya yang jatuh sakit lalu meninggal, karena menahan rindu kepadanya.
Sejak itu, ia selalu fokus mencari uang dan hanya memikirkan uang saja. Untuk menghilangkan rasa bersalahnya, waktunya dipergunakan hanya untuk bekerja dan berdoa ditengah malam. Segala sumber uang dicarinya. Dari yang hitam, abu-abu, juga yang halal. Tiga tahun terakhir: ia sudah bisa membuat penampungan anak yatim di perbatasan kota. Dibiayainya seluruh kebutuhan 27 anaknya tersebut. Kerjanya semakin menggila, karena kebutuhan semakin meningkat.
"Tuhan, tahun ini adalah tahun terbaik dalam hidupku," kata sang jutawan. "Mulai tahun depan akan lebih ringan bebanku. Yayasan besar akan mengurusi semua kebutuhan ini. Jadi aku bisa menghabiskan banyak waktu dan bisa menjadi bapak yang baik buat seluruh anak-anakku."
=========================================================================
Tapi sayangnya, tahun depan tak pernah menemui sang jutawan. Ia tewas ditangan pria yang sangat ingin belajar nyetir itu: dua hari yang lalu. Kala hujan lebat: sesaat hendak berdoa ditengah malam yang sejuk dan sepi itu.
Sang jutawan mendengar suara langkah kaki hendak masuk kekamarnya. Dibalut sarung dan kopiah, sang jutawan menoleh kebelakang. Benar. Sang pria yang ingin belajar nyetir dan membuat SIM itu, telah berdiri gemetaran membelakangi daun pintu kamar sang jutawan.
Pria itu bergetar hebat, tak pernah dibayangkan akan bertemu dengan sang jutawan empunya rumah. Ia tahu pria duda yang tinggal sendiri itu kerap keluar hingga dua atau tiga hari lamanya. Pengamatannya meleset hari ini. Perhitungan yang diambilnya salah total. Ia mengira rumah itu kosong malam itu.
Karena panik, bercampur takut yang hebat, belati yang dibawanya hanya untuk mencongkel dan menggertak saja, dihujamkannya kedada jutawan yang hendak berdiri dari duduknya. Berkali - kali. Hingga benar-benar sepi dan benar-benar merah.
=========================================================================
"Aku tahu semuanya akan berakhir begini...
Tapi pria yang hanya ingin belajar nyetir dan mendapat SIM itu, tak akan pernah tahu bagaimana Aku menyayanginya. Ia hanya berfikir memberikan penghidupan yang lebih layak kepada anak-isterinya. Ia mengikuti saran temannya, jika jadi supir: kesejahteraan akan jauh lebih baik daripada terus jadi jagal Sapi di Rumah Pemotongan Hewan. Temannya bilang, ia punya link boss-boss yang selalu butuh supir pribadi atau supir biro perjalanan."
Pria yang sangat ingin bisa nyetir itu telah empat bulan menyisihkan uang. Tapi tak pernah mendekati angka yang dibutuhkan untuk belajar nyetir dan membuat SIM. Selalu habis untuk kebutuhan-kebutuhan anak-isteri yang lebih mendesak. Hingga akhirnya ia berfikir mencuri saja sekali. Mencuri dengan aman. Untuk menggenapi uangnya, agar bisa nyetir.
Dipilihnya sang jutawan, tetangga yang agak jauh dari rumahnya dan rumahnya paling besar itu. Ia tahu rumah sang jutawan sering kosong dan sepi. Karena hanya dihuni satu orang itu saja. Ia tak pernah kenal secara personal dengan sang jutawan. Hanya tahu muka saja
=========================================================================
"Doa mereka tak pernah Kujawab...
Kini pria yang ingin memiliki SIM itu sudah menyerahkan diri ke Polisi. Ia ditahan dan menunggu sidang. Ia lebih tenang sekarang. Karena anaknya, walaupun tak yatim: tapi dimasukkan Pak RT ke program yang dicanangkan oleh almarhum sang jutawan. Biaya sekolah dan kebutuhan primer anaknya ditanggung oleh penampungan anak yatim milik almarhum. Isterinya juga dipercaya mengelola penampungan dan digaji layak. Karena orang-orang sekitarnya tahu bahwa isteri sang pria yang sangat ingin belajar nyetir itu, sangat jujur terhadap majikan-majikan pemilik cucian."
=========================================================================
"Aku selalu memberikan jalan keluar dengan logikaKu sendiri. Bukan dengan nalar manusia. Bukan dengan kalkulasi otak dan perhitungan-perhitungan terbaik menurut hamba-hambaKu. Aku selalu berada dalam semua siklus dan menggerakkannya tanpa mereka sadari bahwa semua itu adalah jalan yang sudah Kutentukan."
=========================================================================
"Aku sangat menyayangi pria yang menginginkan SIM dan sang jutawan itu. Kini sang jutawan bahagia dialamnya - melihat jerih payahnya membuahkan hasil dan selanjutnya, menunggu skenarioKu dengan tenang: dan pria yang ingin belajar nyetir itu, sudah ikhlas mengirimkan doa-doanya setiap malam. Ditemani butir airmata bathin yang tenang. Ia jauh lebih sejuk dan damai dibanding dirinya yang dulu. Isteri dan anaknya cukup 'berkecukupan' sekarang dan juga kerap mengirimkan doa kepadaKu. Aku sangat mencintai keluarga ini dan sang jutawan. Aku mencintai semua hamba-hambaKu dengan caraKu sendiri."
Pria yang ingin sekali bisa nyetir ini, melelehkan butiran-butiran air jernih dari sudut bolamatanya yang berwarna putih kekuning-kuningan. Dalam sedu sedan ia luapkan semua himpitan bathinnya.
"Tuhan, apakah salah jika aku bisa nyetir? Terlalu berliku jalan yang Kau berikan pada hambaMu ini. Bukankah Kau pernah bersabda jika Engkau hanya akan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan seseorang? Apakah janjiMu sudah tak bisa kupercaya lagi? Apakah ini harus jadi doa pertama dan terakhirku? Lalu siapa yang akan kupercaya lagi?"
Suara parau yang tak terdengar oleh orang lain itu kian melemah. Diteruskan oleh nada gumam ratap yang aneh. Suara yang tak lazim: seperti hamba-hambaKu yang lain mengirimkan doa.
"AAAAARRRRFF. Tuhaaan..RRR..GRR..Tuhannn," kakinya yang dalam posisi bersila digoyang-goyangkannya keatas dan kebawah. Semakin keras. Lalu berhenti. "Tuhaaannn, apa jalan menuju ridhaMu dengan membiarkan anakku kelaparan? Apakah jalan yang Kau kehendaki dengan menjadikan isteriku buruh cuci dirumah orang-orang? Dan selamanya harus beginii..."
Hening. Dalam hening yang cukup lama itu, hatinya berkata : "Jika Kau tak mempermudah jalanKu, siapa lagi? Jika Kau telah menakdirkan aku menyerahkan diri esok pagi, apakah kebutuhan keluargaku akan Kau cukupi?"
========================================================================
Lelaki jagal ini memang baru malam ini mengirimkan doanya. Ia telah membunuh seorang jutawan karena butuh biaya untuk belajar nyetir dan membuat Surat Izin Mengemudi (SIM). Sebelum tengah malam tadi, ia tak pernah mengirim doa kepadaKu. Tak pernah meminta. Untuk memaki nasib dan ketidakadilan saja ia pergunakan hati dan mulutnya.
Doa tak dikenal itu datang dengan tiba-tiba. Aku sudah mengetahuinya sebelum ia memilih kata-kata harap itu. Dan Aku sudah paham reaksinya akan begitu. Ia menyesal mengikuti kata hatinya untuk membawa perubahan yang lebih baik buat keluarga tercinta.
=========================================================================
Beberapa malam yang lalu, seorang jutawan yang kerap mengirimkan doanya, meminta lagi kepadaKu. "Tuhan, berilah hamba rezeki berlimpah. Darimana pun asalnya. Jika ia didalam bumi, keluarkanlah. Jika masih menggantung dilangit, turunkanlah. Apabila rezeki itu haram, halalkan lah. Buka lah pintu rezeki dari empat penjuru mata angin dan selalu lah beri aku rezeki dari arah yang tak terduga."
Jutawan ini memang rajin mengirimkan doanya, sejak anaknya meninggal kala ikut sang isteri dulu. Saat perceraiannya dengan isteri tercinta, karena orang ketiga: tujuh tahun yang lalu.
Ia rajin berdoa, awalnya karena merasa bersalah kepada buah hatinya yang jatuh sakit lalu meninggal, karena menahan rindu kepadanya.
Sejak itu, ia selalu fokus mencari uang dan hanya memikirkan uang saja. Untuk menghilangkan rasa bersalahnya, waktunya dipergunakan hanya untuk bekerja dan berdoa ditengah malam. Segala sumber uang dicarinya. Dari yang hitam, abu-abu, juga yang halal. Tiga tahun terakhir: ia sudah bisa membuat penampungan anak yatim di perbatasan kota. Dibiayainya seluruh kebutuhan 27 anaknya tersebut. Kerjanya semakin menggila, karena kebutuhan semakin meningkat.
"Tuhan, tahun ini adalah tahun terbaik dalam hidupku," kata sang jutawan. "Mulai tahun depan akan lebih ringan bebanku. Yayasan besar akan mengurusi semua kebutuhan ini. Jadi aku bisa menghabiskan banyak waktu dan bisa menjadi bapak yang baik buat seluruh anak-anakku."
=========================================================================
Tapi sayangnya, tahun depan tak pernah menemui sang jutawan. Ia tewas ditangan pria yang sangat ingin belajar nyetir itu: dua hari yang lalu. Kala hujan lebat: sesaat hendak berdoa ditengah malam yang sejuk dan sepi itu.
Sang jutawan mendengar suara langkah kaki hendak masuk kekamarnya. Dibalut sarung dan kopiah, sang jutawan menoleh kebelakang. Benar. Sang pria yang ingin belajar nyetir dan membuat SIM itu, telah berdiri gemetaran membelakangi daun pintu kamar sang jutawan.
Pria itu bergetar hebat, tak pernah dibayangkan akan bertemu dengan sang jutawan empunya rumah. Ia tahu pria duda yang tinggal sendiri itu kerap keluar hingga dua atau tiga hari lamanya. Pengamatannya meleset hari ini. Perhitungan yang diambilnya salah total. Ia mengira rumah itu kosong malam itu.
Karena panik, bercampur takut yang hebat, belati yang dibawanya hanya untuk mencongkel dan menggertak saja, dihujamkannya kedada jutawan yang hendak berdiri dari duduknya. Berkali - kali. Hingga benar-benar sepi dan benar-benar merah.
=========================================================================
"Aku tahu semuanya akan berakhir begini...
Tapi pria yang hanya ingin belajar nyetir dan mendapat SIM itu, tak akan pernah tahu bagaimana Aku menyayanginya. Ia hanya berfikir memberikan penghidupan yang lebih layak kepada anak-isterinya. Ia mengikuti saran temannya, jika jadi supir: kesejahteraan akan jauh lebih baik daripada terus jadi jagal Sapi di Rumah Pemotongan Hewan. Temannya bilang, ia punya link boss-boss yang selalu butuh supir pribadi atau supir biro perjalanan."
Pria yang sangat ingin bisa nyetir itu telah empat bulan menyisihkan uang. Tapi tak pernah mendekati angka yang dibutuhkan untuk belajar nyetir dan membuat SIM. Selalu habis untuk kebutuhan-kebutuhan anak-isteri yang lebih mendesak. Hingga akhirnya ia berfikir mencuri saja sekali. Mencuri dengan aman. Untuk menggenapi uangnya, agar bisa nyetir.
Dipilihnya sang jutawan, tetangga yang agak jauh dari rumahnya dan rumahnya paling besar itu. Ia tahu rumah sang jutawan sering kosong dan sepi. Karena hanya dihuni satu orang itu saja. Ia tak pernah kenal secara personal dengan sang jutawan. Hanya tahu muka saja
=========================================================================
"Doa mereka tak pernah Kujawab...
Kini pria yang ingin memiliki SIM itu sudah menyerahkan diri ke Polisi. Ia ditahan dan menunggu sidang. Ia lebih tenang sekarang. Karena anaknya, walaupun tak yatim: tapi dimasukkan Pak RT ke program yang dicanangkan oleh almarhum sang jutawan. Biaya sekolah dan kebutuhan primer anaknya ditanggung oleh penampungan anak yatim milik almarhum. Isterinya juga dipercaya mengelola penampungan dan digaji layak. Karena orang-orang sekitarnya tahu bahwa isteri sang pria yang sangat ingin belajar nyetir itu, sangat jujur terhadap majikan-majikan pemilik cucian."
=========================================================================
"Aku selalu memberikan jalan keluar dengan logikaKu sendiri. Bukan dengan nalar manusia. Bukan dengan kalkulasi otak dan perhitungan-perhitungan terbaik menurut hamba-hambaKu. Aku selalu berada dalam semua siklus dan menggerakkannya tanpa mereka sadari bahwa semua itu adalah jalan yang sudah Kutentukan."
=========================================================================
"Aku sangat menyayangi pria yang menginginkan SIM dan sang jutawan itu. Kini sang jutawan bahagia dialamnya - melihat jerih payahnya membuahkan hasil dan selanjutnya, menunggu skenarioKu dengan tenang: dan pria yang ingin belajar nyetir itu, sudah ikhlas mengirimkan doa-doanya setiap malam. Ditemani butir airmata bathin yang tenang. Ia jauh lebih sejuk dan damai dibanding dirinya yang dulu. Isteri dan anaknya cukup 'berkecukupan' sekarang dan juga kerap mengirimkan doa kepadaKu. Aku sangat mencintai keluarga ini dan sang jutawan. Aku mencintai semua hamba-hambaKu dengan caraKu sendiri."
Jumat, 21 Januari 2011
Jangan Rakus
Buat rekan-rekan muslim, saya ingin berbagi nasehat dari Imam Al Ghazali. Mudah-mudahan jadi penyejuk untuk saya dan kita yang membacanya.Nasehat ini diambil dari beberapa point (mengenai rakus) dari kitab Imam Al Ghazali, Ihya Ulumiddin - yang mengupas habis tentang qalbu dan 'penyakit' hati.
Hati-hatilah dengan sifat rakus, karena setiap kita memiliki bakat untuk rakus. Bila tidak dilemahkan, sifat itu akan mencengkeram jiwa dan menghancurkan diri kita sendiri. Jauh-jauh hari Rasulullah SAW telah memperingatkan, "Seandainya anak Adam memiliki dua lembah (ladang) emas, tentu dia akan mencari yang ketiga. TIDAK ADA YANG DAPAT MEMBUAT PENUH PERUT ANAK ADAM KECUALI TANAH (MATI). Allah SWT akan menerima taubat orang-orang yang benar-benar taubat."
Rasulullah SAW pernah bersabda, "Manusia itu walaupun mencapai usia senja, tetapi ia MASIH MERASA MUDA DALAM DUA HAL, yaitu angan-angan dan cinta harta."
Rasulullah SAW melarang kita bersifat rakus.Sabdanya, "Perhatikanlah wahai manusia, PERBAIKILAH CARAMU MENCARI HARTA. Sesungguhnya seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali (apa yang) TELAH DITENTUKAN BAGINYA. Dunia adalah sesuatu yang rendah dan hina."
Kaya bukanlah banyak harta. Tak ada artinya HARTA MELIMPAH JIKA HATI RAKUS. Disebutkan dalam hadist, "Orang kaya itu bukan ditentukan karena hartanya melimpah. Tetapi kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati."
Sarmith bin Ujlan berpesan, "Wahai manusia, perutmu hanyalah sejengkal, jangan sampai ia membuatmu masuk neraka."
Kata Ibnu Mas'ud: Tidaklah ada satu haripun, kecuali seorang malaikat memanggil-manggil dan berseru, "Wahai manusia, sedikit harta yang dapat membuatmu merasa cukup itu lebih baik daripada banyak (harta) tetapi membuatmu durhaka kepada Allah SWT.
Qanaah artinya kaya hati. Sedangkan rakus itu sama dengan kefakiran. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Umar R.A. "Sesungguhnya thama' (rakus) adalah kefakiran, sementara memutus keinginan (tidak iri hati) terhadap apa yang ada ditangan orang lain merupakan kekayaan."
Hati-hatilah dengan sifat rakus, karena setiap kita memiliki bakat untuk rakus. Bila tidak dilemahkan, sifat itu akan mencengkeram jiwa dan menghancurkan diri kita sendiri. Jauh-jauh hari Rasulullah SAW telah memperingatkan, "Seandainya anak Adam memiliki dua lembah (ladang) emas, tentu dia akan mencari yang ketiga. TIDAK ADA YANG DAPAT MEMBUAT PENUH PERUT ANAK ADAM KECUALI TANAH (MATI). Allah SWT akan menerima taubat orang-orang yang benar-benar taubat."
Rasulullah SAW pernah bersabda, "Manusia itu walaupun mencapai usia senja, tetapi ia MASIH MERASA MUDA DALAM DUA HAL, yaitu angan-angan dan cinta harta."
Rasulullah SAW melarang kita bersifat rakus.Sabdanya, "Perhatikanlah wahai manusia, PERBAIKILAH CARAMU MENCARI HARTA. Sesungguhnya seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali (apa yang) TELAH DITENTUKAN BAGINYA. Dunia adalah sesuatu yang rendah dan hina."
Kaya bukanlah banyak harta. Tak ada artinya HARTA MELIMPAH JIKA HATI RAKUS. Disebutkan dalam hadist, "Orang kaya itu bukan ditentukan karena hartanya melimpah. Tetapi kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati."
Sarmith bin Ujlan berpesan, "Wahai manusia, perutmu hanyalah sejengkal, jangan sampai ia membuatmu masuk neraka."
Kata Ibnu Mas'ud: Tidaklah ada satu haripun, kecuali seorang malaikat memanggil-manggil dan berseru, "Wahai manusia, sedikit harta yang dapat membuatmu merasa cukup itu lebih baik daripada banyak (harta) tetapi membuatmu durhaka kepada Allah SWT.
Qanaah artinya kaya hati. Sedangkan rakus itu sama dengan kefakiran. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Umar R.A. "Sesungguhnya thama' (rakus) adalah kefakiran, sementara memutus keinginan (tidak iri hati) terhadap apa yang ada ditangan orang lain merupakan kekayaan."
Sabtu, 15 Januari 2011
Objektifitas Media Besar Indonesia
Beberapa bulan belakangan ini saya merasa terusik dengan pemberitaan media-media besar di Indonesia. Televisi nasional khususnya: pola dan arah pemberitaan yang ditampilkan tak pernah memberi ruang positif untuk bangsa kita yang besar ini, memiliki percaya diri lebih. Media selalu menstimulasi opini dalam kepala orang Indonesia, bahwa negara yang kemerdekaannya ditukar dengan jutaan nyawa ini: memang bangsa yang kacau dan tipis harapannya bergerak kearah yang lebih baik.
Televisi nasional selalu membombardir negara ini dengan siaran kekecewaan dan hopeless/ keputusasaan massal. Bak sinetron tragedi tak berujung, berita-berita yang diangkat selalu 'difokuskan' kepada kegagalan Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa. Dilukiskan Indonesia sebagai negara sumber ketidakadilan, sumber kemunafikan, bentukan dari punca sebuah rezim, bahkan personal yang tak memiliki pekerjaan tetap pun, dikarenakan ia memang pemalas dan tak memiliki keahlian: tetap saja negara disalahkan. Begitu juga dengan koruptor atau perampok. Dosa individu sudah menjadi dosa negara.
Dalam opini ini, saya pisahkan antara negara dengan pemerintahan SBY. Saya pastikan saya bukan pendukung kaum kiri maupun kanan. Saya melihat yang terjadi adalah: beberapa media besar, sangat-sangat kritis dengan pemerintahan SBY, dan tak ada masalah dengan itu, selama ada bukti/ fakta. Ironisnya, "SBY dilumpuhkan, Bangsa Indonesia dikorbankan".
Sudah terlalu lama pemberitaan dan penyampaian opini dibeberapa TV (skala) nasional Indonesia disusupi kepentingan-kepentingan aneh. Dapat dilihat dari pola pemberitaan. Baik itu pemilihan kata, pemilihan sudut pandang yang diarahkan oleh reporter saat 'hot topic' di 'talk show' maupun nara sumber 'pengimbang' sebuah 'talk show'. Apalagi diskusi tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak. Dipastikan muaranya - "Bangsa ini memang begitu". Bangsa dengan mental sakit...Kasihan Indonesia.
Saya masih merekam bagaimana seorang reporter wanita (TV di Indonesia) melakukan kebohongan publik yang menyesatkan. Ia merekayasa kasus dalam sebuah siaran. Tapi hingga hari ini, ia masih dipercaya memoderatori dan mengarahkan perbincangan-perbincangan opini di stasiun televisinya dan Polisi tak berani bertindak keras kala kasus itu mencuat. Karena Polisi memang alergi dan enggan memanjangkan masalah dengan media.
Saya juga memerhatikan gelagat para pemilik media besar. Jika ia politisi, ia akan selalu menyudutkan pemerintahan yang tengah berlangsung (yang tak kooperatif dengannya). Dengan pola pemilihan pemberitaan yang saya sampaikan diatas tadi. Tentunya ia tak turun langsung secara teknis, tapi seleranya sudah dapat ditangkap oleh awak medianya. Finalnya, politik pencitraan.
Jika ia murni pengusaha, ia akan memanfaatkan kekuatan media untuk melindungi diri dari praktek bisnis 'abu-abunya' dan menghajar (lewat pemberitaan) pihak-pihak yang sekiranya dapat membahayakan bisnisnya. Baik itu sebuah institusi atau 'permainan' pengusaha saingannya.
Jika ia pejabat publik, medianya tak akan pernah mengkritisi kebijakan dan manuver pergerakan badan atau departemen yang dipimpinnya. Kecuali yang positif dan baik-baik saja.
Bukan berarti saya mengajak jangan percaya berita. Tapi sebaiknya kita berhati-hati dengan pemberitaan di negeri ini. Jangan sampai kepercayaan diri kita sebagai orang Indonesia: luntur, digerus pemberitaan-pemberitaan untuk kepentingan tertentu yang mengatasnamakan rakyat, masyarakat dan bangsa. Jangan sampai tertanam dalam diri kita bahwa bangsa kita adalah bangsa bobrok, dikarenakan ulah media yang tak bertanggungjawab secara moral.
Jangan sampai kita tak berfikir jernih dan idealis lagi: disebabkan pemberitaan-pemberitaan yang selalu mengerdilkan semangat juang kita untuk Indonesia yang lebih baik.
Televisi nasional selalu membombardir negara ini dengan siaran kekecewaan dan hopeless/ keputusasaan massal. Bak sinetron tragedi tak berujung, berita-berita yang diangkat selalu 'difokuskan' kepada kegagalan Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa. Dilukiskan Indonesia sebagai negara sumber ketidakadilan, sumber kemunafikan, bentukan dari punca sebuah rezim, bahkan personal yang tak memiliki pekerjaan tetap pun, dikarenakan ia memang pemalas dan tak memiliki keahlian: tetap saja negara disalahkan. Begitu juga dengan koruptor atau perampok. Dosa individu sudah menjadi dosa negara.
Dalam opini ini, saya pisahkan antara negara dengan pemerintahan SBY. Saya pastikan saya bukan pendukung kaum kiri maupun kanan. Saya melihat yang terjadi adalah: beberapa media besar, sangat-sangat kritis dengan pemerintahan SBY, dan tak ada masalah dengan itu, selama ada bukti/ fakta. Ironisnya, "SBY dilumpuhkan, Bangsa Indonesia dikorbankan".
Sudah terlalu lama pemberitaan dan penyampaian opini dibeberapa TV (skala) nasional Indonesia disusupi kepentingan-kepentingan aneh. Dapat dilihat dari pola pemberitaan. Baik itu pemilihan kata, pemilihan sudut pandang yang diarahkan oleh reporter saat 'hot topic' di 'talk show' maupun nara sumber 'pengimbang' sebuah 'talk show'. Apalagi diskusi tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak. Dipastikan muaranya - "Bangsa ini memang begitu". Bangsa dengan mental sakit...Kasihan Indonesia.
Saya masih merekam bagaimana seorang reporter wanita (TV di Indonesia) melakukan kebohongan publik yang menyesatkan. Ia merekayasa kasus dalam sebuah siaran. Tapi hingga hari ini, ia masih dipercaya memoderatori dan mengarahkan perbincangan-perbincangan opini di stasiun televisinya dan Polisi tak berani bertindak keras kala kasus itu mencuat. Karena Polisi memang alergi dan enggan memanjangkan masalah dengan media.
Saya juga memerhatikan gelagat para pemilik media besar. Jika ia politisi, ia akan selalu menyudutkan pemerintahan yang tengah berlangsung (yang tak kooperatif dengannya). Dengan pola pemilihan pemberitaan yang saya sampaikan diatas tadi. Tentunya ia tak turun langsung secara teknis, tapi seleranya sudah dapat ditangkap oleh awak medianya. Finalnya, politik pencitraan.
Jika ia murni pengusaha, ia akan memanfaatkan kekuatan media untuk melindungi diri dari praktek bisnis 'abu-abunya' dan menghajar (lewat pemberitaan) pihak-pihak yang sekiranya dapat membahayakan bisnisnya. Baik itu sebuah institusi atau 'permainan' pengusaha saingannya.
Jika ia pejabat publik, medianya tak akan pernah mengkritisi kebijakan dan manuver pergerakan badan atau departemen yang dipimpinnya. Kecuali yang positif dan baik-baik saja.
Bukan berarti saya mengajak jangan percaya berita. Tapi sebaiknya kita berhati-hati dengan pemberitaan di negeri ini. Jangan sampai kepercayaan diri kita sebagai orang Indonesia: luntur, digerus pemberitaan-pemberitaan untuk kepentingan tertentu yang mengatasnamakan rakyat, masyarakat dan bangsa. Jangan sampai tertanam dalam diri kita bahwa bangsa kita adalah bangsa bobrok, dikarenakan ulah media yang tak bertanggungjawab secara moral.
Jangan sampai kita tak berfikir jernih dan idealis lagi: disebabkan pemberitaan-pemberitaan yang selalu mengerdilkan semangat juang kita untuk Indonesia yang lebih baik.
Kamis, 09 Desember 2010
Untukmu Pulau Bintan dan Batam
![]() |
| boom |
boom dibagi gratis untuk masyarakat Pulau Bintan dan Batam. boom adalah anak dari kepercayaan yang diberikan oleh produsen [istilah kami untuk pemasang iklan].
Mereka yang mempercayai kami adalah mitra-mitra yang sangat paham arti pentingnya konsumen [juga istilah kami - untuk pembaca boom yang 'akan' jadi pelanggan atau customer para pemasang iklan]
boom tidak membebankan biaya kepada konsumen. Sebab mereka adalah tumpuan awal. Mereka hanya ingin mengetahui informasi yang akurat dan benar tentang sebuah produk atau aktivitas. Itu saja!
That's all....................
Produsen yang baik: harus menemukan alur itu. Disinilah posisi boom. Meneruskan amanah yang diinginkan para pemasang iklan. Biaya yang timbul adalah investasi untuk produsen, sekaligus service 'lebih' kepada konsumen.
Secara reguler, boom dicetak dwi bulanan. Tak menutup kemungkinan masa itu dipersingkat. Jadi setiap bulan atau sebulan dua kali malah. Tergantung kesadaran berinvestasi para produsen. Begitu juga dengan jumlah examplar atau wilayah sebaran boom, akan selalu dievaluasi dan ditingkatkan.
Yang pasti, boom akan selalu hadir secara berkala dan cetak 3000 examplar untuk langkah-langkah awal ini. Dengan cara apapun............[Pemasang iklan juga langsung dapat meninjau ke lokasi cetak jika benar-benar ingin memastikan boom dicetak sesuai dengan gembar-gembor manajemen]
Segmen boom adalah semua kelas sosial. Dengan nilai investasi yang proporsional - boom melayani. Sepanjang tahun 2011, range harga kami mulai dari Limaratus Ribu, dan puncaknya Satu Juta Limaratus Ribu Rupiah. Dengan nilai tersebut, kami yakin semua bendera akan berkibar. Termasuk bendera pengusaha menengah dan pengusaha kecil. Amin.
Bulletin mini setebal 32 halaman penuh warna ini, dijaga oleh kualitas standar yang diterapkan oleh boom manajemen. Kualitas tinta, warna, kertas hingga proses cetak diawasi langsung. Manajemen memiliki mesin film dan mesin cetak sendiri. Dan muaranya, mempengaruhi harga produksi: sebab itulah boom dapat bertahan diharga proporsional yang kami tetapkan.
Kertas yang digunakan untuk mengisi helai demi helai halaman boom adalah kertas yang lazim digunakan oleh majalah-majalah kelas nasional. Bersih, terang dan ketebalannya pas. Juga pas masuk ke saku konsumen. boom didesain untuk dapat dikantongi atau disaku. Hingga memudahkan konsumen saat menyimpannya diperjalanan atau dalam wadah apa saja. boom juga berisi info-info ekstra untuk wilayah Pulau Bintan dan Batam. Sayang jika dibuang!
Pulau Bintan [Kota Tanjungpinang - Kabupaten Bintan] dan Pulau Batam adalah ladang perdana distribusi boom. Dua kota di Provinsi Kepulauan Riau [Kepri] ini, dirasa dapat mewakili geliat ekonomi masyarakat Kepri secara umum..........Bintan, Batam, kami datang!
[Untuk lebih jelas, singgah saja ke Facebook boom Bulletin Gratis.
Thank You sudah menyempatkan waktu untuk membaca.........................]
Langganan:
Postingan (Atom)





